Selasa, 27 Desember 2016

CHAPTER 5 : RESOLVED!!

Suatu malam tanggal 06 April 2016 saya menonton acara kompetisi menyanyi di Cina lalu saya terinspirasi untuk membuat lagu rohani sekaligus melawan kebosanan saya juga. Mulailah saya menulis lagu pada malam itu. Dan puji Tuhan saya langsung dapat membuat 2 buah lirik lagu yang saya beri judul “Yesus Penyembuhku” dan “Jangan Kamu Kuatir”.

Oia, selama saya menjalani perawatan saya juga di temani oleh anggota SOS (Sahabat Orang Sakit) yang kebanyakan dari mereka penginjil dan pendeta bahkan Gembala Sidang. Mereka ini dihubungi oleh kakak saya melalui teman di gerejanya. Setiap hari saya dimotivasi dan di doakan di sana, bahkan mereka mengunjungi tempat penginapan saya untuk mengobrol melepas kebosanan. Bukti bahwa TUHAN selalu menyertai saya. Terima kasih Bpk Ibu SOS, Tuhan memperhitungkan jerih lelah mu dan akan memberkati mu.

Pada saat saya berada di ruang tunggu untuk menjalankan radioterapi yang ke-10 (kalau tidak salah ingat) istri saya mengatakan kalau ada orang yang menstransfer sejumlah dana untuk saya. Mereka adalah orang gereja saya dan teman-teman lama yang sudah tidak pernah ketemu lagi ketika saat di remaja gereja. Betapa terkejut dan terharunya saya, mereka masih mengingat dan mau mendukung saya melalui uang mereka padahal sudah tidak pernah ketemu dan mereka masih muda-muda. SALUTTT!!!! Tuhan yang akan membalas kebaikan dengan memberkati kalian. Saya berpikir untuk membuat sebuah lagu untuk mereka. Dan saya pun membuatnya dengan judul “Terimakasih Sahabatku”. Lagu ini pun juga ingin saya tujukan kepada orang-orang yang peduli terhadap saya.

Akhirnya sampailah saya pada hari terakhir radioterapi tapi perjuangan belum selesai, masih ada kemoterapi yang harus di lewati. Saya masih tidak bisa bicara dan makan, hanya minum susu terus. Tiap malam harus bangun untuk minum air karena tenggorokan kering. Untuk kemoterapi saya jadwalnya 3 minggu sekali jadinya saya pulang pergi. Sampai pada jadwal kemoterapi yang terakhir ke-6, saya sudah tidak mau lagi menjalani karena saya capek hati dan tubuh. Saya pasrah menerima akibatnya.

Malamnya saya berdoa, Roh Kudus menguatkan saya…sudah 5x kemoterapi dijalani dan hanya tinggal 1x lagi…semangat untuk sembuh total. Saya menangis dan meminta Tuhan memberi kekuatan kepada saya menjalani kemo yang terakhir. Akhirnya saya menjalani kemo yang terakhir. Ternyata Tuhan menjawab doa saya,  saya merasa tidak sakit saat suster menusukkan jarum suntik ke lengan saya untuk ambil darah….fiuuuhhhh…. masih ada 1 lagi, jarum suntik kemo. Setelah hasil dilihat oleh dokter dan tidak ada masalah, saya diperbolehkan untuk kemo. Dokter pun mengatakan jadwal selanjutnya adalah MRI untuk melihat apakah kanker saya sudah hilang atau belum.

Masuk ke ruangan kemo, pilih bangku, dan suster pun datang mempersiapkan jarum suntik infuse. “tarik nafas ya pak…1,2,3….” kata suster. Ternyata tidak sakit….fiiuuhhh…. karena sebelumnya saya sempat ditusuk 2x akibat “salurannya” tidak pas (membuat saya trauma sampai saya muntah). Dan juga selama kemo saya tertidur sama ketika saat pertama kali kemo sehingga hari cepat berlalu. Thank You God.

Perasaan haru, lega, bahagia kurasakan saat jarum infuse kemo dicabut dari tanganku. IT’S DONE!! Selesai semua perawatanku selama ini. Puji Tuhan. Dan saya pun bbm ke istri saya mengatakan kalau saya sangat bahagia sekali telah selesai menjalani perawatan ini. Dan dia pun turut bahagia. Sesampainya di rumah, kami sekeluarga berdoa mengucap syukur atas berkat dan anugerah yang telah Tuhan berikan kepada saya dan keluarga.

Tanggal 29 Agustus 2016 pergi ke rumah sakit untuk MRI dan roentgen. Duhhh Tuhan semoga hasilnya baik. Sambil menunggu hasilnya saya dan papa pergi makan siang lalu kembali ke rumah sakit mengambil hasilnya dan membawanya ke dokter. Thanks God again. Hasilnya baik, kanker saya dinyatakan sudah hilang tapi masih ada “otot2” kecil dileher kiri yang menurut dokter akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu dan juga masih ada cairan di pipi kiri saya dan telinga. Saya diberi obat semprot hidung oleh dokter THT untuk mengobati cairan di hidung saya. Puji Tuhan saya bisa melayani Tuhan lagi….bersaksi bagi kemuliaan-Nya

Banyak sekali pelajaran, berkat, air mata yang tercurah dengan kejadian ini.
Apapun yang terjadi, tetap andalkan Tuhan.
Tuhan Yesus kita lebih besar dari masalah kita. Percaya, percaya dan terus percaya. Tuhan senantiasa mengarahkan jalan anak-anakNya agar kita dibentuk menjadi bejana yang indah. Dan yakin Tuhan mampu memulihkan segala sesuatunya.

Dia ubah ratapku jadi tarian…sukacitaku penuh…HALELUYAA….

“Bagimu akan ada matahari yang tidak pernah terbenam dan bulan yang tidak surut, sebab Tuhan akan menjadi penerang abadi bagimu,dan hari-hari perkabunganmu akan berakhir.” ~ Yesaya 60 : 20

Terima kasih sudah mau membaca blog saya ini, kiranya menjadi berkat dan nama Tuhan di permuliakan. Amin.

Saya juga mengucap syukur kepada Tuhan untuk :
- Papa yang telah memberikan seluruh waktu dan tenaganya buat saya.
- Mama yang selalu mendoakan saya
- Papa Mama mertua yang selalu mendoakan dan memberikan perhatian
- Istriku Yuliea Hakim atas doa, motivasi dan tenaganya
- Anak-anak ku yang setia mendoakan
- Ko Paulus & ci Fung
- Ellis dan Kurniawan
- Tante ku: Ranna Widjaja dan Fany Suriwang
- Dr. Sugento, Dr. Desy, Dr. Tomo, Dr. Yunieta
- Ko Aku dan Ci Achiang
- Fredo dan Lanny
- GJKI family : Pdm. Wiwiek, Pdt. Pribadi, Pdt. Anton dan bu Sianna, Ev. Misray, pak Budi, pak 
                          Iwan, Riko, James, Jimmy, dll
- SOS team: Pdt. Liana, Pdt. Paulus, Ev. Suripto, dll
- Pdt. Andreas (GPAI Batu Tulis)
- Ex Remaja GJKI : Fendy, Rendy, Samuel, Econ, Daniel Amos, Dewi, Ira, Dwynn, Merlin, Hanna,                                    Felicia
- Saudara, teman2 dan yang lainnya yang mungkin terlewatkan

kiranya Tuhan memberkati kalian semua


Bagi semua teman-teman penderita Kanker, jangan putus asa dan tetap semangat. Tidak  ada penyakit yang tidak dapat Tuhan sembuhkan. Dia Yesus yang dahulu menyembuhkan banyak orang dengan penyakit apapun dan Dia juga yang akan menyembuhkanmu!! 

Percaya saja!!!

Kamis, 10 November 2016

CHAPTER 4 : 55 ke 45

Tanggal 01 Maret 2016, saya dan papa ke rumah sakit untuk melakukan penambalan gigi serta pembersihan karang gigi. Hmmm…gigi ku kinclong… setelah itu, saya ke ruangan dokter onkologi untuk memberikan progress yang telah saya lakukan. Karena topeng untuk radioterapi saya belum jadi, maka saya di anjurkan untuk melakukan kemoterapi tahap 1 dahulu yang dapat dilakukan keesokan hari.

Tanggal 02 Maret 2016
Pukul 10 pagi cek darah dilakukan, 2 jam hasilnya dikirim ke ruangan dokter. Hasil cek darah menunjukkan saya dapat melakukan kemoterapi. Saya menuju ke lantai 5 ruangan kemoterapi. Di sana saya dapat memilih bangku (reclining seat) lengkap dengan bantal dan selimut karena ac nya dingin sekali. Dilengkapi fasilitas tv dan minuman kopi/teh/ susu (self service). Yang membuat saya kagum adalah pelayanannya. Perawat di sana mondar-mandir melulu melihat keadaan pasien. Apabila infusan sudah hampir habis mereka langsung mempersiapkan pengganti. Dan kalau pasien ingin ke toilet dapat memberitahukan ke perawat agar tiang gantung infuse di turunkan dan aliran nya di hentikan supaya darah pasien tidak naik.

Sebelum dimasukan obat cairan infuse kemoterapi, terlebih dahulu dimasukkan obat maag dan obat yang membuat badan menjadi gatal sebentar (saya lupa namanya). Terapi ini berlangsung selama kurang lebih 5 jam. Beberapa saat kemudian, rasa ngantukpun menghampiri dan akhirnya saya tertidur. Ternyata ada obat tidurnya. Jadi waktu cepat berlalu. Mata pun terbuka dan jarum jam menunjukkan pukul 5 sore waktu setempat. Have a dinner and back to hotel.

Selanjutnya adalah radioterapi.
Tanggal 8 Maret 2016 saya menuju ruang radioterapi di lantai basement. Saya menaruh kartu pasien di kotak yang telah disediakan dan menunggu di ruang tunggu sambil menonton tv. Nama saya dipanggil dan saya ke ruangan tunggu yang ke-2. Di sana ruangannya lebih besar dan ada minumannya juga (seperti di ruangan kemoterapi).

Giliran saya untuk masuk ruangan terapi. Sebelumnya ada 3-4 perawat yang masuk dahulu ke ruangan untuk mempersiapkan mesin dan tempat terapinya. Saya pun disuruh untuk melepaskan pakaian dan berbaring di tempat yang disediakan. Takuuuutttttt… “tenang, tidak sakit kok” kata dokter yang saat itu datang control. Di selimuti dan dipakaikan topeng. Topengnya berupa jaring sehingga dapat membuat saya tetap bernafas. Penyetelan posisi badan dilakukan agar sinar radioterapi tepat mengenai daerah sekitar hidung dan mulut saya. Setelah semuanya sudah di atur, mereka pun kembali ke ruangan control di sebelah dan pintu pun ditutup (untuk menghindari radiasi). Tinggallah saya serorang diri dan tidak lama kemudian terdengar bunyi mesin. Saya ingin melihat tapi tidak bisa karena ketatnya topeng yang saya pakai. Kurang lebih 10 menit mesin pun berhenti, saya mendengar pintu terbuka dan derap langkah orang menghampiri lalu mereka menurukan tempat berbaring saya dan membuka topeng. Selesai untuk hari ini.

Hal tersebut harus saya lakukan 35 kali setiap hari kecuali sabtu dan minggu. Untuk meringankan biaya, saya menyewa sebuah apartemen yang jaraknya ditempuh hanya 5 menit naik taksi dengan harga RM 5-10.
Pada awal terapi, saya di temani oleh papa dan tante saya. Beberapa hari melakukan perawatan istri saya bersama kakak dan ibu pendeta datang menemani. Oleh karena paginya saya kemoterapi akhirnya saya batal menjadi tour guide mereka dan digantikan oleh papa hehehehehehe. Kakak dan ibu pendeta tinggal bersama selama 3 hari. Setelah 3 hari mereka dan papa kembali ke Indo. Sebagai gantinya istri saya menemani saya selama 10 hari.  (2nd honeymoon). Mumpung masih kuat (tahap awal perawatan) kami menikmati kebersamaan di sana, berjalan-jalan ke tempat wisata, berkuliner dan tentunya shopping…(apalagi kalau ada “SALE”) hehehheeh…

Pada radioterapi yang ke-7 saya mulai merasakan mulut kering. Seterusnya mulai rasa asin di lidah tidak dapat saya rasakan. Sampai pada radioterapi yang ke-15 leher saya hitam akibat efeknya dan tenggorokan mulai sakit. Saya dianjurkan untuk minum madu oleh salah satu perawat. Saat memasuki radioterapi yang ke-20, saya tidak bisa makan dan hanya minum susu. Tenggorokan sakit sekali, bahkan untuk menelan ludahpun sakit. Minum jus buah pun hanya bisa buah pir. Di saat itulah tubuh saya mulai turun drastis, berawal dari ketika gym 58 kg, mulai perawatan turun 55 kg sampai akhirnya 45 kg. Semua celana jadi kedodoran dan ikat pinggang pun terpaksa di buat lubang tambahan.

Saya juga tidak dapat berbicara karena sakit. Tiap malam saya pasti bangun karena mulut dan tenggorokan saya kering mengakibatkan saya batuk, saya harus minum air putih. Bibir saya pun pecah-pecah dan sariawan. Tiap hari bangun pagi saya merasakan sakit pada tenggorokan saya…SETIAP HARI…dan tubuh saya mulai lemah. Kembali saya bersungut-sungut dan kesal pada kondisi saya ini.

Hari demi hari saya lalui membuat saya dihinggapi rasa bosan. Akhirnya saya pergi ke mall dekat rumah sakit dan membeli action figure rakitan 3 buah. Lumayan untuk mengatasi kebosanan dan saya pun sempat “meracuni” sahabat saya untuk juga membeli action figure tersebut…eh malahan dia menjadi ketagihan dan sampai membeli hingga jutaan rupiah..hahahahhahaaha… sori and kereenn broooo…

Sudah 1 bulan tanggal 29 Maret 2016 saya menetap di Malaysia bersama papa. Harus perpanjang permit visit passport nih.  Kalo gak, bisa di deportasi. Hal itu saya konsultasikan ke dokter dan ternyata dari pihak rumah sakit dapat membantu menguruskan di kantor imigrasi tetapi hanya untuk pasien. Akhirnya saya menyiapkan dokumen yang harus dilengkapi dan biayanya. Saya pergi ke kantor imigrasi bersama papa saya naik taxi dan di sana bertemu dengan perwakilan dari rumah sakit. Esoknya papa saya perpanjang permit visitnya dengan cara pergi bermalam ke Singapur bersama adik saya. Adik saya datang menjenguk bersama mama saya. Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar kalau nenek saya yang berada di belitung sedang sakit kritis karena usia 90-nya. Mama saya sedih dan bermaksud untuk pergi ke belitung. Lusa harinya mama saya pulang bersama adik saya ke Jakarta dan besoknya mama pergi ke belitung. Kabar bahwa nenek saya meninggal pun terdengar. See you in heaven grandma…



            

             Bersambung >>>

Rabu, 12 Oktober 2016

CHAPTER 3: I need YOU, where are YOU??

“Kamu itu mengidap KANKER NASOFARING!!” tegas dokter.

Saya terkejut bukan main dan saya tidak bisa berkata apa-apa. Dokter menyuruh saya untuk melakukan biopsy lagi, kali ini di sumbernya yaitu di belakang hidung. Dan harus dilakukan saat itu juga. Biopsi pun di lakukan di ruangan operasi/tindakan sebelah rungan konsultasinya. Saat memasukan obat bius melalui hidung, terasa perih di sekitar hidung sampai leher. Dan saat dokter ingin memasukkan alat untuk mengambil sebagian organ dari sumbernya itu…buru-buru saya menutup mata dan saya hanya merasakan seperti ada yang ditarik / dicabut dari dalam hidung saya...hanya sedikit. Lalu saya disuruh untuk menunggu hasilnya selama 1 minggu (berbeda dengan di Indonesia harus menunggu sekitar 1 bulan). Setelah itu dia merujuk saya untuk pengobatan selanjutnya ke dokter onkologi yang masih satu lantai. Sebelum pergi, dokter memberikan saya vitamin B12 dan saran untuk melakukan melatih tangan saya dengan mengangkat beban (dumbell) 1 atau 2 kg. Karena hari sudah sore dan jam kerja dokter sudah habis, maka saya dan papa saya kembali ke hotel dan menghabiskan sisa hari dengan berjalan-jalan ke mall sekitar rumah sakit.

Keesokan hari setelah melakukan registrasi kembali, saya menuju ke dokter onkologi dan melakukan konsultasi. Dokter menyuruh saya untuk melakukan roentgen dada dan MRI ulang karena berkas roentgen yang saya bawa sudah lama (bulan Agustus 2015). Dia takut kalau kanker saya ini sudah menyebar ke tempat lain. Rontgen dada, cek darah dan MRI head and neck pun saya lakukan.

Hasil roentgen dan MRI saya ambil keesokan harinya dan membawanya ke dokter. Setelah dokter melihat hasilnya ternyata kanker saya tidak menyebar dan saya mengidap kanker nasofaring stage 3. Dia mengatakan kesempatan saya 50:50 (50 dari pengobatan dan 50 dari semangat hidup). Air mata pun tak tertahankan. Saya menangis setelah mendengar hal itu dan papa saya berusaha untuk menenangkan saya. Setelah saya berusaha kuat, dokter melanjutkan ke tahap pengobatan dengan memberikan jadwal rawatan atau terapi yang harus saya jalani dan biayanya. Terapi nya ada 2 yaitu radioterapi dan kemoterapi (infuse). Radioterapi harus dilakukan setiap hari sebanyak 35 kali atau kurang lebih 2 bulan sedangkan kemoterapi ada 2 jadwal yaitu seminggu sekali sebanyak 6-7 kali atau 3 minggu sekali sebanyak 6 kali. Bagi yang tidak kuat fisiknya, dianjurkan untuk mengambil yang 3 minggu sekali karena efek samping dari kemoterapi yang dapat membuat fisik menjadi lemah. Ditetapkanlah jadwal berlangsungnya terapi tersebut atas diri saya.

Sebagai informasi, sebelum menjalankan radioterapi saya diharuskan untuk membuat topeng agar ketika terapi dilakukan posisi kepala saya tidak bergeser atau bergerak. Dan untuk obat infuse kemoterapi yang digunakan tidak membuat kepala saya botak….fiuhhhh…. dan juga saya harus memeriksakan gigi saya karena setelah menjalankan terapi, selama 5 tahun ke depan saya tidak diperbolehkan mencabut gigi karena akan mengalami pendarahan.

Sebelum kembali ke hotel, saya mendaftarkan diri ke dokter gigi yang berada di lantai dasar dan mendapat jadwal besok. Kembalilah saya ke hotel dan memberitahukan kepada istri saya via bbm bahwa saya mengidap penyakit Kanker Nasofaring. Dan saya merasakan kesedihan istri saya setelah mendapat kabar itu. Kabar itu pun diberitahukan ke kakak. adik dan anggota keluarga yang lain. Mereka pun larut dalam tangis (seperti lomba menangis) bersama dengan salah seorang pendeta gereja saya yang saat itu berkunjung ke rumah.

Marah dan bersungut-sungut kutujukan kepada Tuhan atas apa yang telah terjadi.
WHY LORD?? WHY…WHY ME?? TELL ME MY SINS!!! TALK TO ME LORD… TALK TO ME… PLEASE…

NO SOUND…NOTHING.. DO YOU EXIST LORD???
I NEED YOU, WHERE ARE YOU?

Walaupun saya terlahir dari keluarga Kristen dan terlibat dalam kegiatan gereja atau pelayanan tidak serta merta membuat iman saya kuat saat menghadapi masalah berat.

Malam pun telah larut tetapi mata saya tak kunjung tertutup. Pikiran buruk pun menghantui. Pasrah dan putus asa menemani. Hanya ditopang oleh doa dan motivasi dari keluarga dan sahabat, saya mau menjalani terapi tersebut.

Tiba saatnya saya diperiksa dokter gigi. Saya harus roentgen gigi dulu sebelum dilakukan tindakan. Dokter melihat ada beberapa gigi saya yang harus dicabut. Karena posisi gigi saya yang sulit dilakukan pencabutan, akhirnya dokter melakukan operasi terhadap mulut saya. Panik bukan main… kalau bukan suatu keharusan, saya akan lari keluar dari ruangan itu.

Dokter dan asistennya pun mempersiapkan segala sesuatunya, saya pun diberikan penutup mata (mungkin agar saya tidak takut melihat darah). Malahan dengan ditutupnya mata saya, saya semakin takut. Oh noooo…air mata pun mengalir… eike tatuuuuttttt dookk…. “Saya tidak mau pakai penutup matanya” ucap saya. Penutup mata pun di buka dan dilanjutkan proses operasinya… jantung berdegup kencang, tangan mengepal erat, jari kaki tegang dan badan kaku merupakan efek samping dari ketakutan…hihihihihi….

Operasipun selesai dan mulut saya di sumpal kain kasa untuk menahan darah yang keluar setelah operasi akibatnya saya tidak bisa bicara. Pipi kelihatan bengkak karena ada kain kasa…untuk sementara waktu saya kelihatan chubby….hehehehehehe… Kain kasa pengganti pun diberikan dan dianjurkan untuk kumur-kumur dengan air es agar darahnya berhenti keluar. Selama 2 hari akhirnya darah berhenti keluar dari mulut saya. Jadwal selanjutnya adalah tooth filling (tambal gigi).

Selama 1 minggu di Malaysia akhirnya tanggal 23 Februari 2016 back to Jakarta.
Setibanya di rumah, acara nangis pun berlanjut…istri dan mama saya menangis…saya pun tertular nangis. Lalu mereka memotivasi saya, mendoakan dan memberi semangat agar saya dapat menjalani proses terapi dan menjadi sembuh.

Tanggal 29 Feb 2016 saya balik ke Malaysia dan saya telah mempersiapkan perlengkapan kebutuhan untuk 2 bulan menetap di sana bersama papa.




Bersambung >>>


Kamis, 06 Oktober 2016

CHAPTER 2: Mereka PEDULI!!

Kesimpulan: anak sebar KARSINOMA yang asalnya tidak dapat ditentukan disertai
          RADANG GRANULOMATOSA yang kemungkinan disebabkan oleh
          proses tuberkolosis. Bagaimana keadaan saluran/pencernaan pasien ini??

Anjuran: Pulasan Imunohistokimia untuk menyingkirkan kemungkinan Limfoma
    malignus sekaligus kepastian diagnosisnya.

“What the meaning of this?” tanyaku pada dokter. Tumor Ganas!! U gotta be kidding me. Kami berdua kaget seraya tidak percaya apa yang kami dengar. Lalu kami menyetujui untuk mengikuti anjuran dari hasil PA yaitu melakukan pengecekan lagi Pulasan Imunohistokimia kepada seorang Profesor. Dan hasilnya……….tunggu 3-4 minggu…..
Tumor Ganas?? Is it true?? 

Telah tiba saatnya untuk mengambil hasil Pulasan Imunohistokimia. Dengan mata melotot, tangan gemetar, jantung berdebar…………….nahan pipis boooo….
Amplop pun ku buka dan kulihat ada secarik kertas. Ku raih kertas itu dan ku baca dalam hati sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

Kesimpulan: Sesuai anak sebar karsinoma. 

WHAT??!!! Kok sama??? Wadduuuu…What should I du??? 

Saya memperlihatkan hasil tersebut kepada saudara saya yang dokter dan dia menganjurkan saya untuk melakukan radioterapi. Tapi saya tidak melakukannya karena pikir saya pasti akan sembuh dengan sendirinya.

KEEP CALM and PRAY!!

Selanjutnya hari-hari saya diisi dengan terapi makan, makan sayur2an, jus buah2an setiap hari dan berharap everything will be ok

Teman-teman dari komisi pria gereja datang berkunjung ke rumah. Mereka memberikan semangat, doa bahkan dana. Terimakasih atas perhatian dan kepeduliannya.

Sampai pada suatu waktu di bulan Februari, si “otot” muncul lagi di sebelah kiri leher saya. Padahal saya uda tidak gym lagi lho..heheheh.. Terkejut bukan kepalang…kenapa lagi ini?? Tuhan apa yang terjadi?? Biarin aja deh, pikirku...bodo amat..

Sehari sebelum imlek 2016.
Jangan sampai “otot” ini terlihat bokap nyokap nih karena saya tidak mau merepotkan mereka. Pakai baju yang ada kerahnya ahhh.
Imlek 2016, waktunya anak-anak kerja heheheheheh…
Tiba di rumah bokap nyokap…gong xi gong xi…ayoooo sikat makanannya… hau che.
“Lo, leher kamu kenapa ini?” kata nyokap. Oh nooooo…..
“gak tau nih, muncul lagi” jawab saya.
Dengan nada gusar bokap dan nyokap menyuruh saya untuk segera berobat kembali. ASAP!!!!

Setelah mencari dan mendapatkan informasi tentang penyakit saya, ortu pun menyuruh saya untuk berobat ke luar negeri.
Sejujurnya hati saya sudah pasrah untuk tidak melakukan pengobatan apapun dan hanya mengandalkan iman kepada Tuhan. Bukankah Dia Yehova Rapha? Allah yang menyembuhkan??
Saya sangat tahu Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia?? Apakah perbuatan yang selama ini saya lakukan bukan bentuk dari Iman saya??

Perasaan sedih muncul dan saya tidak tahu harus berbuat apa-apa. Saya sedih kenapa hal ini menimpa diri saya? Saya sedih ternyata saya harus membuat orangtua dan keluarga saya repot dan kuatir. Apalagi biaya pengobatannya pasti mahal lalu saya memutuskan untuk tidak berobat ke luar negeri dan terus melakukan terapi makan dan herbal.

Kalau tidak salah 1 minggu kemudian, orangtua datang ke rumah berkunjung. Tiba-tiba papa saya meminta izin kepada istri saya untuk membawa saya berobat ke Malaysia. Istri saya pun menyerahkan semua keputusan kepada saya. Saya menolak tapi orangtua saya bersikeras untuk membawa saya berobat ke sana SEGERA!!

Ketika saya saat teduh keesokkan paginya...

YOHANES 5:1 Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. 5:2 Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani  disebut Betesda; ada lima serambinya 5:3 dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. 5:4 Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya. 5:5 Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. 5:6 Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?" 5:7 Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." 5:8 Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." 5:9 Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.

“Tuhan apa maksud dari saat teduh saya ini?” pikirku. Roh Kudus memberiku hikmat: apakah aku mau sembuh seperti orang yang lumpuh dalam Firman Tuhan ini?? Mungkin dia sebelumnya uda pasrah dengan keadaannya. Tapi Yesus menunjukkan kepedulian-Nya, Dia menyatakan kasih-Nya kepada orang itu dengan berkata: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Langsung saya ingat pada orangtua saya yang hendak membawa saya berobat ke luar negeri. “Apakah papa saya utusan-Mu Tuhan??” pikir saya. “Kalau iya, saya akan turut perintah-Mu.”

Mereka PEDULI!!

Lalu saya mencari info mengenai rumah sakit yang ada di Malaysia dan saya mendapatkannya beberapa. Sempat bingung juga mau memilih yang mana. Lalu kakak saya memberi info salah satu rumah sakit di sana dan ternyata ada perwakilannya di Indonesia. Akhirnya saya mengunjungi perwakilannya itu dan mencari info lokasi, perjalanan menuju ke sana, penginapan, ke dokter mana diperlukan dan biayanya. Setelah mengumpulkan informasi dan mengatur jadwal dengan dokter, saya pulang ke rumah dan memberitahukannya kepada orangtua saya.

Dua tiket transportasi dan akomodasipun dipersiapkan untuk tanggal 16 Februari 2016. Setelah tiba di bandara internasional Malaysia jam 2.30 PM, kami harus menaiki bus lagi dengan waktu kurang lebih 2 jam untuk tiba di rumah sakit sana.

Keesokkan harinya pukul 9 pagi tanggal 17 Februari 2016 saya dan papa saya mengunjungi rumah sakit tersebut yang lokasinya tidak jauh dari tempat penginapan kami. Mengambil nomor urut sesuai dengan keperluan. Saya mengambil untuk registrasi. Setelah mengurus administrasi kami pun langsung menuju ruangan dokter di lantai 4 (dokter THT).

Sambil menunggu antrian, saya melihat-lihat foto yang di pajang di dinding ruangan tunggu. Wow…dokter nya boleh juga nih…lulusan Mysore dan Edinburgh, terus mendapat penghargaan dari salah satu Sultan Malaysia.
Dan tibalah giliran saya masuk bertemu dokternya. Tidak lupa saya membawa berkas CT-Scan dan hasil roentgen dari Jakarta dan memperlihatkan kepadanya. Saya juga menunjukkan bekas operasi biopsy dan dia terkejut sambil berkata “waduhhh kok dioperasi? Itu bukan sumbernya. Kami di sini tidak mau mengambil tindakan seperti itu karena akibatnya posisi tangan bisa lemah”. Betapa kecewanya saya mendengar hal itu. Kiranya hal ini menjadi perhatian bagi para dokter bedah di Indonesia agar lebih teliti dalam menangani pasien karena menyangkut hidupnya. Tapi mau dikata apa lagi, sudah berlalu. “Kamu ini mengidap tumor” lanjutnya. Tidak lama dari itu handphone papa saya berdering dan papa saya keluar ruangan untuk menerima telepon. Si dokter menatap saya dan dia berkata lagi “Kamu itu sebenarnya mengidap…………..”




Bersambung >>>


Sabtu, 17 September 2016

CHAPTER 1 : Otot di leher

Cowok mana yang gak mau punya tubuh keren, atletis, six pack, berotot? 
Tapi kalo ototnya nongol di leher masih keren gak ya? (sambil bayangin deh…hahahaha)
Itu yang saya alami pada bulan Agustus tahun 2015 kemarin. Aneh juga kok di leher bisa muncul otot? Mau tau bagaimana caranya? Hahaahahaah…jangan sampe deh, amit-amit.

Kelenjar getah bening?? Langsung teringat salah satu artis dan comedian terkenal yang baru saja meninggal katanya akibat kelenjar getah bening.

Muncullah kegelisahan dalam jiwaku… (dag dig dug serr)
Apa yang harus kulakukan? (pilihan berganda)

a. berdoa          b. berobat        c. keduanya benar

Setelah berdoa, pada tanggal 18 Agustus 2015 saya ditemani oleh sang permaisuri memeriksakan diri ke klinik dekat rumah di bilangan Jakarta timur. Setelah diperiksa, dokter mengatakan kemungkinan akibat penyakit TBC dan saya disuruh untuk rontgen thorax dan cek darah. Hasil dari rontgen menyatakan paru-paru saya dalam keadaan baik dan hasil cek darah saya tidak menunjukkan masalah yang berarti.

Kegelisahan masih menyelimuti diriku…AADE (Ada Apa Dengan Ello).

Setelah menceritakan soal “otot” yang ada di leher kanan kepada orangtua, mereka menyuruh saya untuk memeriksakan diri ke salah satu dokter bedah di rumah sakit daerah Jakarta utara dengan referensi dari teman mereka. Dan berkunjunglah saya ke sana dan melakukan konsultasi pada tanggal 25 Agustus 2015. Dokter tersebut menyuruh saya untuk dilakukan USG Thyroid, setelah itu menetapkan tanggal untuk dilakukan biopsy (diambil semua) terhadap “otot” di leher saya itu. 

OPERASIIIII???!!!! OH ON eh.. OH NO!!!
Setau saya, biopsy itu ada 2 macam, diambil sedikit dan diambil semua.

Kegelisahan jilid 2 menghampiriku…

Bersyukur punya saudara sepupu dokter. saya menceritakan hal ini kepadanya dan dia merekomendasikan saya untuk melakukan CT-Scan di rumah sakit daerah Jakarta pusat.
28 Agustus 2015 dengan mengendarai kuda besi bak seorang ksatria, sampailah saya di benteng rumah sakit tersebut lalu mengeluarkan uang untuk parkir (dibayar dimuka heheheheh). Setelah antri tibalah giliran saya untuk CT-Scan (pertama kali dalam hidup) dan hasilnya dapat diambil beberapa hari kemudian.

Hasil Ct-Scan keluar dan saya memperlihatkan kepada saudara saya dan dia merujuk saya untuk ke dokter THT atau Onkologi di rumah sakit yang berlainan di daerah Jakarta pusat. Atas nasihatnya, berangkatlah saya pada tanggal 01 September 2015 mengunjungi dokter onkologi tersebut setelah sebelumnya melakukan perjanjian dan saya membawa serta hasil CT-Scan. Dokter melihat hasil CT-Scan dan mengatakan saya harus di biopsi. Karena saya takut dioperasi maka saya minta obat dulu, siapa tau bisa sembuh. (ngarepp).
Ketika obat dari dokter habis, saya minum obat herbal yang ada di iklan majalah. Dan si “otot” pun tak kunjung melarikan diri dari leherku.

Teman gereja melihat kejadian ini dan merekomendasikan saya ke salah satu dokter di rumah sakit daerah Jakarta utara (dokter bedah). Berkunjunglah saya ke sana tanggal 18 September 2015 dan melakukan konsultasi. Dan dokterpun mengatakan saya harus di biopsy (diambil semua). Pernyataan yang sama dari dokter sebelumnya.

Kegelisahaan jilid 3 menghampiri + kepala pusing

Takut akan membesarnya si “otot” dan menimbulkan efek negative ke tubuh, disepakatilah waktu biopsinya yaitu tanggal 21 September 2015.

Pagi hari ditemani orangtua datang ke rumah sakit dan tak kusangka, tak kuduga…hadirlah Pendeta dan teman gereja untuk mendoakan dan memberi semangat. Oh betapa indahnya dan betapa eloknya, bila saudara seiman hidup dalam persatuan.
Setelah itu saya menuju ruangan yang paling ditakuti yaitu ruangan kasir…untuk melakukan pembayaran di muka…
Masuklah saya di ruangan tunggu operasi ditemani seorang pasien wanita (mungkin kurang lebih umurnya 40an) yang juga akan dioperasi.
Tibalah giliran saya untuk masuk ke ruang operasi dan disambut oleh 2 dokter: yang satu dokter bius dan satu lagi dokter bedah.
“Pak, saya suntik sedikit ya..tenang dan tutup mata aja” kata dokter biusnya. Dan tak lama setelah menusukkan jarum suntik ke tangan saya…wusshhhhh….. hilanglah saya….

“Pak…bangun Pak”. Tiba-tiba terdengar suara wanita membangunkan ku. Dengan penglihatan yang samar-samar dan kepala yang pusing, saya berusaha untuk bangun tapi ternyata oh ternyata saya mengeluarkan cairan dari mulut saya alias muntah. Saya tidak sanggup untuk bangun dan berusaha untuk “hilang” lagi.
Dalam keadaan setengah sadar saya dimasukkan ke ruang rawat inap.
Setelah beberapa hari saya “cek in” di rumah sakit akhirnya saya merasa tubuh saya sudah segar walaupun dalam keadaan leher masih di perban dan tidak bisa nengok kanan dan kiri. Saya mengajukan ke dokter untuk dapat pulang dan berobat jalan. Dokter pun mengabulkan dan memberikan saya salep untuk diolesi pada bekas jahitan operasi. Hasil biopsi/PA ditunggu selama 1 bulan. Satu minggu setelah itu saya datang kembali untuk ganti perban dan diberikan vitamin syaraf.

Rasa penasaran menghampiri saya untuk mencari pendapat yang lain dari dokter yang berbeda. Lalu saya melakukan perjanjian dengan dokter THT di salah satu rumah sakit daerah Jakarta pusat.
Tanggal 06 Oktober 2015 hadirlah saya disana dan menceritakan kejadiannya. Setelah melihat hasil CT-Scan yang saya bawa, dokter tersebut melakukan endoskopi dan hasilnya yaitu ada daging lebih di belakang hidung tetapi dia tidak mau mendahului hasil PA dan menyuruh saya untuk menunggu hasil PA dan diperlihatkan kepadanya.

Setelah 1 bulan berlalu dan perban di leher sudah di buka, pada tanggal 03 Oktober 2015 kembalilah saya bersama sang permaisuri ke dokter yang melakukan biopsy untuk mengetahui hasil PA. Dan hasilnya adalah…………… 

                                                                                                            
 Bersambung >>>