“Kamu
itu mengidap KANKER NASOFARING!!” tegas dokter.
Saya
terkejut bukan main dan saya tidak bisa berkata apa-apa. Dokter menyuruh saya
untuk melakukan biopsy lagi, kali ini di sumbernya yaitu di belakang hidung.
Dan harus dilakukan saat itu juga. Biopsi pun di lakukan di ruangan
operasi/tindakan sebelah rungan konsultasinya. Saat memasukan obat bius melalui
hidung, terasa perih di sekitar hidung sampai leher. Dan saat dokter ingin
memasukkan alat untuk mengambil sebagian organ dari sumbernya itu…buru-buru
saya menutup mata dan saya hanya merasakan seperti ada yang ditarik / dicabut
dari dalam hidung saya...hanya sedikit. Lalu saya disuruh untuk menunggu
hasilnya selama 1 minggu (berbeda dengan di Indonesia harus menunggu sekitar 1 bulan). Setelah itu dia merujuk
saya untuk pengobatan selanjutnya ke dokter onkologi yang masih satu lantai. Sebelum
pergi, dokter memberikan saya vitamin B12 dan saran untuk melakukan melatih
tangan saya dengan mengangkat beban (dumbell) 1 atau 2 kg. Karena hari sudah
sore dan jam kerja dokter sudah habis, maka saya dan papa saya kembali ke hotel
dan menghabiskan sisa hari dengan berjalan-jalan ke mall sekitar rumah sakit.
Keesokan
hari setelah melakukan registrasi kembali, saya menuju ke dokter onkologi dan
melakukan konsultasi. Dokter menyuruh saya untuk melakukan roentgen dada dan MRI
ulang karena berkas roentgen yang saya bawa sudah lama (bulan Agustus 2015).
Dia takut kalau kanker saya ini sudah menyebar ke tempat lain. Rontgen dada,
cek darah dan MRI head and neck pun saya lakukan.
Hasil
roentgen dan MRI saya ambil keesokan harinya dan membawanya ke dokter.
Setelah dokter melihat hasilnya ternyata kanker saya tidak menyebar dan saya
mengidap kanker nasofaring stage 3. Dia mengatakan kesempatan saya 50:50 (50
dari pengobatan dan 50 dari semangat hidup). Air mata pun tak tertahankan. Saya
menangis setelah mendengar hal itu dan papa saya berusaha untuk menenangkan
saya. Setelah saya berusaha kuat, dokter melanjutkan ke tahap pengobatan dengan
memberikan jadwal rawatan atau terapi yang harus saya jalani dan biayanya.
Terapi nya ada 2 yaitu radioterapi dan kemoterapi (infuse). Radioterapi harus
dilakukan setiap hari sebanyak 35 kali atau kurang lebih 2 bulan sedangkan
kemoterapi ada 2 jadwal yaitu seminggu sekali sebanyak 6-7 kali atau 3 minggu
sekali sebanyak 6 kali. Bagi yang tidak kuat fisiknya, dianjurkan untuk
mengambil yang 3 minggu sekali karena efek samping dari kemoterapi yang dapat
membuat fisik menjadi lemah. Ditetapkanlah jadwal berlangsungnya terapi
tersebut atas diri saya.
Sebagai
informasi, sebelum menjalankan radioterapi saya diharuskan untuk membuat topeng
agar ketika terapi dilakukan posisi kepala saya tidak bergeser atau bergerak. Dan
untuk obat infuse kemoterapi yang digunakan tidak membuat kepala saya
botak….fiuhhhh…. dan juga saya harus memeriksakan gigi saya karena setelah
menjalankan terapi, selama 5 tahun ke depan saya tidak diperbolehkan mencabut
gigi karena akan mengalami pendarahan.
Sebelum
kembali ke hotel, saya mendaftarkan diri ke dokter gigi yang berada di lantai
dasar dan mendapat jadwal besok. Kembalilah saya ke hotel dan memberitahukan
kepada istri saya via bbm bahwa saya mengidap penyakit Kanker Nasofaring. Dan
saya merasakan kesedihan istri saya setelah mendapat kabar itu. Kabar itu pun
diberitahukan ke kakak. adik dan anggota keluarga yang lain. Mereka pun larut
dalam tangis (seperti lomba menangis) bersama dengan salah seorang pendeta
gereja saya yang saat itu berkunjung ke rumah.
Marah dan bersungut-sungut
kutujukan kepada Tuhan atas apa yang telah terjadi.
WHY LORD?? WHY…WHY ME?? TELL ME
MY SINS!!! TALK TO ME LORD… TALK
TO ME… PLEASE…
NO SOUND…NOTHING.. DO YOU EXIST
LORD???
I NEED YOU, WHERE ARE
YOU?
Walaupun saya terlahir dari
keluarga Kristen dan terlibat dalam kegiatan gereja atau pelayanan tidak serta
merta membuat iman saya kuat saat menghadapi masalah berat.
Malam pun telah larut tetapi mata
saya tak kunjung tertutup. Pikiran buruk pun menghantui. Pasrah dan putus asa
menemani. Hanya ditopang oleh doa dan motivasi dari keluarga dan sahabat, saya
mau menjalani terapi tersebut.
Tiba
saatnya saya diperiksa dokter gigi. Saya harus roentgen gigi dulu sebelum
dilakukan tindakan. Dokter melihat ada beberapa gigi saya yang harus dicabut.
Karena posisi gigi saya yang sulit dilakukan pencabutan, akhirnya dokter
melakukan operasi terhadap mulut saya. Panik bukan main… kalau bukan suatu
keharusan, saya akan lari keluar dari ruangan itu.
Dokter dan asistennya pun mempersiapkan
segala sesuatunya, saya pun diberikan penutup mata (mungkin agar saya tidak
takut melihat darah). Malahan dengan ditutupnya mata saya, saya semakin takut.
Oh noooo…air mata pun mengalir… eike tatuuuuttttt dookk…. “Saya tidak mau pakai
penutup matanya” ucap saya. Penutup mata pun di buka dan dilanjutkan proses
operasinya… jantung berdegup kencang, tangan mengepal erat, jari kaki tegang
dan badan kaku merupakan efek samping dari ketakutan…hihihihihi….
Operasipun selesai dan mulut saya
di sumpal kain kasa untuk menahan darah yang keluar setelah operasi akibatnya
saya tidak bisa bicara. Pipi kelihatan bengkak karena ada kain kasa…untuk
sementara waktu saya kelihatan chubby….hehehehehehe… Kain kasa pengganti pun
diberikan dan dianjurkan untuk kumur-kumur dengan air es agar darahnya berhenti
keluar. Selama 2 hari akhirnya darah berhenti keluar dari mulut saya. Jadwal
selanjutnya adalah tooth filling (tambal gigi).
Selama 1 minggu di Malaysia
akhirnya tanggal 23 Februari 2016 back to Jakarta .
Setibanya di rumah, acara nangis
pun berlanjut…istri dan mama saya menangis…saya pun tertular nangis. Lalu
mereka memotivasi saya, mendoakan dan memberi semangat agar saya dapat
menjalani proses terapi dan menjadi sembuh.
Tanggal 29 Feb 2016 saya balik ke
Malaysia dan
saya telah mempersiapkan perlengkapan kebutuhan untuk 2 bulan menetap di sana
bersama papa.
Bersambung >>>