Tanggal 01 Maret 2016, saya dan
papa ke rumah sakit untuk melakukan penambalan gigi serta pembersihan karang
gigi. Hmmm…gigi ku kinclong… setelah itu, saya ke ruangan dokter onkologi untuk
memberikan progress yang telah saya lakukan. Karena topeng untuk radioterapi
saya belum jadi, maka saya di anjurkan untuk melakukan kemoterapi tahap 1
dahulu yang dapat dilakukan keesokan hari.
Tanggal 02 Maret 2016
Pukul 10 pagi cek darah
dilakukan, 2 jam hasilnya dikirim ke ruangan dokter. Hasil cek darah
menunjukkan saya dapat melakukan kemoterapi. Saya menuju ke lantai 5 ruangan
kemoterapi. Di sana saya dapat
memilih bangku (reclining seat) lengkap dengan bantal dan selimut karena ac nya
dingin sekali. Dilengkapi fasilitas tv dan minuman kopi/teh/ susu (self
service). Yang membuat saya kagum adalah pelayanannya. Perawat di sana
mondar-mandir melulu melihat keadaan pasien. Apabila infusan sudah hampir
habis mereka langsung mempersiapkan pengganti. Dan kalau pasien ingin ke toilet
dapat memberitahukan ke perawat agar tiang gantung infuse di turunkan dan
aliran nya di hentikan supaya darah pasien tidak naik.
Sebelum dimasukan obat cairan
infuse kemoterapi, terlebih dahulu dimasukkan obat maag dan obat yang membuat
badan menjadi gatal sebentar (saya lupa namanya). Terapi ini berlangsung selama
kurang lebih 5 jam. Beberapa saat kemudian, rasa ngantukpun menghampiri dan
akhirnya saya tertidur. Ternyata ada obat tidurnya. Jadi waktu cepat berlalu.
Mata pun terbuka dan jarum jam menunjukkan pukul 5 sore waktu setempat. Have a
dinner and back to hotel.
Selanjutnya adalah radioterapi.
Tanggal 8 Maret 2016 saya menuju
ruang radioterapi di lantai basement. Saya menaruh kartu pasien di kotak yang
telah disediakan dan menunggu di ruang tunggu sambil menonton tv. Nama saya
dipanggil dan saya ke ruangan tunggu yang ke-2. Di sana
ruangannya lebih besar dan ada minumannya juga (seperti di ruangan kemoterapi).
Giliran saya untuk masuk ruangan
terapi. Sebelumnya ada 3-4 perawat yang masuk dahulu ke ruangan untuk
mempersiapkan mesin dan tempat terapinya. Saya pun disuruh untuk melepaskan
pakaian dan berbaring di tempat yang disediakan. Takuuuutttttt… “tenang, tidak
sakit kok” kata dokter yang saat itu datang control. Di selimuti dan dipakaikan
topeng. Topengnya berupa jaring sehingga dapat membuat saya tetap bernafas.
Penyetelan posisi badan dilakukan agar sinar radioterapi tepat mengenai daerah
sekitar hidung dan mulut saya. Setelah semuanya sudah di atur, mereka pun
kembali ke ruangan control di sebelah dan pintu pun ditutup (untuk menghindari radiasi).
Tinggallah saya serorang diri dan tidak lama kemudian terdengar bunyi mesin.
Saya ingin melihat tapi tidak bisa karena ketatnya topeng yang saya pakai. Kurang
lebih 10 menit mesin pun berhenti, saya mendengar pintu terbuka dan derap
langkah orang menghampiri lalu mereka menurukan tempat berbaring saya dan
membuka topeng. Selesai untuk hari ini.
Hal tersebut harus saya lakukan
35 kali setiap hari kecuali sabtu dan minggu. Untuk meringankan biaya, saya
menyewa sebuah apartemen yang jaraknya ditempuh hanya 5 menit naik taksi dengan
harga RM 5-10.
Pada awal terapi, saya di temani
oleh papa dan tante saya. Beberapa hari melakukan perawatan istri saya bersama
kakak dan ibu pendeta datang menemani. Oleh karena paginya saya kemoterapi
akhirnya saya batal menjadi tour guide mereka dan digantikan oleh papa
hehehehehehe. Kakak dan ibu pendeta tinggal bersama selama 3 hari. Setelah 3
hari mereka dan papa kembali ke Indo. Sebagai gantinya istri saya menemani saya
selama 10 hari. (2nd
honeymoon). Mumpung masih kuat (tahap awal perawatan) kami menikmati
kebersamaan di sana , berjalan-jalan
ke tempat wisata, berkuliner dan tentunya shopping…(apalagi kalau ada “SALE ”)
hehehheeh…
Pada radioterapi yang ke-7 saya
mulai merasakan mulut kering. Seterusnya mulai rasa asin di lidah tidak dapat
saya rasakan. Sampai pada radioterapi yang ke-15 leher saya hitam akibat
efeknya dan tenggorokan mulai sakit. Saya dianjurkan untuk minum madu oleh
salah satu perawat. Saat memasuki radioterapi yang ke-20, saya tidak bisa makan
dan hanya minum susu. Tenggorokan sakit sekali, bahkan untuk menelan ludahpun
sakit. Minum jus buah pun hanya bisa buah pir. Di saat itulah tubuh saya mulai
turun drastis, berawal dari ketika gym 58 kg, mulai perawatan turun 55 kg sampai
akhirnya 45 kg. Semua celana jadi kedodoran dan ikat pinggang pun terpaksa di
buat lubang tambahan.
Saya juga tidak dapat berbicara
karena sakit. Tiap malam saya pasti bangun karena mulut dan tenggorokan saya
kering mengakibatkan saya batuk, saya harus minum air putih. Bibir saya pun
pecah-pecah dan sariawan. Tiap hari bangun pagi saya merasakan sakit pada
tenggorokan saya…SETIAP HARI…dan tubuh saya mulai lemah. Kembali saya
bersungut-sungut dan kesal pada kondisi saya ini.
Hari demi hari saya lalui membuat
saya dihinggapi rasa bosan. Akhirnya saya pergi ke mall dekat rumah sakit dan
membeli action figure rakitan 3 buah. Lumayan untuk mengatasi kebosanan dan
saya pun sempat “meracuni” sahabat saya untuk juga membeli action figure
tersebut…eh malahan dia menjadi ketagihan dan sampai membeli hingga jutaan
rupiah..hahahahhahaaha… sori and kereenn broooo…
Sudah 1 bulan tanggal 29 Maret 2016
saya menetap di Malaysia
bersama papa. Harus perpanjang permit visit passport nih. Kalo gak, bisa di deportasi. Hal itu saya
konsultasikan ke dokter dan ternyata dari pihak rumah sakit dapat membantu
menguruskan di kantor imigrasi tetapi hanya untuk pasien. Akhirnya saya
menyiapkan dokumen yang harus dilengkapi dan biayanya. Saya pergi ke kantor
imigrasi bersama papa saya naik taxi dan di sana
bertemu dengan perwakilan dari rumah sakit. Esoknya papa saya perpanjang permit
visitnya dengan cara pergi bermalam ke Singapur bersama adik saya. Adik saya
datang menjenguk bersama mama saya. Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar
kalau nenek saya yang berada di belitung sedang sakit kritis karena usia 90-nya.
Mama saya sedih dan bermaksud untuk pergi ke belitung. Lusa harinya mama saya
pulang bersama adik saya ke Jakarta
dan besoknya mama pergi ke belitung. Kabar bahwa nenek saya meninggal pun
terdengar. See you in heaven grandma…
Bersambung >>>