Kamis, 10 November 2016

CHAPTER 4 : 55 ke 45

Tanggal 01 Maret 2016, saya dan papa ke rumah sakit untuk melakukan penambalan gigi serta pembersihan karang gigi. Hmmm…gigi ku kinclong… setelah itu, saya ke ruangan dokter onkologi untuk memberikan progress yang telah saya lakukan. Karena topeng untuk radioterapi saya belum jadi, maka saya di anjurkan untuk melakukan kemoterapi tahap 1 dahulu yang dapat dilakukan keesokan hari.

Tanggal 02 Maret 2016
Pukul 10 pagi cek darah dilakukan, 2 jam hasilnya dikirim ke ruangan dokter. Hasil cek darah menunjukkan saya dapat melakukan kemoterapi. Saya menuju ke lantai 5 ruangan kemoterapi. Di sana saya dapat memilih bangku (reclining seat) lengkap dengan bantal dan selimut karena ac nya dingin sekali. Dilengkapi fasilitas tv dan minuman kopi/teh/ susu (self service). Yang membuat saya kagum adalah pelayanannya. Perawat di sana mondar-mandir melulu melihat keadaan pasien. Apabila infusan sudah hampir habis mereka langsung mempersiapkan pengganti. Dan kalau pasien ingin ke toilet dapat memberitahukan ke perawat agar tiang gantung infuse di turunkan dan aliran nya di hentikan supaya darah pasien tidak naik.

Sebelum dimasukan obat cairan infuse kemoterapi, terlebih dahulu dimasukkan obat maag dan obat yang membuat badan menjadi gatal sebentar (saya lupa namanya). Terapi ini berlangsung selama kurang lebih 5 jam. Beberapa saat kemudian, rasa ngantukpun menghampiri dan akhirnya saya tertidur. Ternyata ada obat tidurnya. Jadi waktu cepat berlalu. Mata pun terbuka dan jarum jam menunjukkan pukul 5 sore waktu setempat. Have a dinner and back to hotel.

Selanjutnya adalah radioterapi.
Tanggal 8 Maret 2016 saya menuju ruang radioterapi di lantai basement. Saya menaruh kartu pasien di kotak yang telah disediakan dan menunggu di ruang tunggu sambil menonton tv. Nama saya dipanggil dan saya ke ruangan tunggu yang ke-2. Di sana ruangannya lebih besar dan ada minumannya juga (seperti di ruangan kemoterapi).

Giliran saya untuk masuk ruangan terapi. Sebelumnya ada 3-4 perawat yang masuk dahulu ke ruangan untuk mempersiapkan mesin dan tempat terapinya. Saya pun disuruh untuk melepaskan pakaian dan berbaring di tempat yang disediakan. Takuuuutttttt… “tenang, tidak sakit kok” kata dokter yang saat itu datang control. Di selimuti dan dipakaikan topeng. Topengnya berupa jaring sehingga dapat membuat saya tetap bernafas. Penyetelan posisi badan dilakukan agar sinar radioterapi tepat mengenai daerah sekitar hidung dan mulut saya. Setelah semuanya sudah di atur, mereka pun kembali ke ruangan control di sebelah dan pintu pun ditutup (untuk menghindari radiasi). Tinggallah saya serorang diri dan tidak lama kemudian terdengar bunyi mesin. Saya ingin melihat tapi tidak bisa karena ketatnya topeng yang saya pakai. Kurang lebih 10 menit mesin pun berhenti, saya mendengar pintu terbuka dan derap langkah orang menghampiri lalu mereka menurukan tempat berbaring saya dan membuka topeng. Selesai untuk hari ini.

Hal tersebut harus saya lakukan 35 kali setiap hari kecuali sabtu dan minggu. Untuk meringankan biaya, saya menyewa sebuah apartemen yang jaraknya ditempuh hanya 5 menit naik taksi dengan harga RM 5-10.
Pada awal terapi, saya di temani oleh papa dan tante saya. Beberapa hari melakukan perawatan istri saya bersama kakak dan ibu pendeta datang menemani. Oleh karena paginya saya kemoterapi akhirnya saya batal menjadi tour guide mereka dan digantikan oleh papa hehehehehehe. Kakak dan ibu pendeta tinggal bersama selama 3 hari. Setelah 3 hari mereka dan papa kembali ke Indo. Sebagai gantinya istri saya menemani saya selama 10 hari.  (2nd honeymoon). Mumpung masih kuat (tahap awal perawatan) kami menikmati kebersamaan di sana, berjalan-jalan ke tempat wisata, berkuliner dan tentunya shopping…(apalagi kalau ada “SALE”) hehehheeh…

Pada radioterapi yang ke-7 saya mulai merasakan mulut kering. Seterusnya mulai rasa asin di lidah tidak dapat saya rasakan. Sampai pada radioterapi yang ke-15 leher saya hitam akibat efeknya dan tenggorokan mulai sakit. Saya dianjurkan untuk minum madu oleh salah satu perawat. Saat memasuki radioterapi yang ke-20, saya tidak bisa makan dan hanya minum susu. Tenggorokan sakit sekali, bahkan untuk menelan ludahpun sakit. Minum jus buah pun hanya bisa buah pir. Di saat itulah tubuh saya mulai turun drastis, berawal dari ketika gym 58 kg, mulai perawatan turun 55 kg sampai akhirnya 45 kg. Semua celana jadi kedodoran dan ikat pinggang pun terpaksa di buat lubang tambahan.

Saya juga tidak dapat berbicara karena sakit. Tiap malam saya pasti bangun karena mulut dan tenggorokan saya kering mengakibatkan saya batuk, saya harus minum air putih. Bibir saya pun pecah-pecah dan sariawan. Tiap hari bangun pagi saya merasakan sakit pada tenggorokan saya…SETIAP HARI…dan tubuh saya mulai lemah. Kembali saya bersungut-sungut dan kesal pada kondisi saya ini.

Hari demi hari saya lalui membuat saya dihinggapi rasa bosan. Akhirnya saya pergi ke mall dekat rumah sakit dan membeli action figure rakitan 3 buah. Lumayan untuk mengatasi kebosanan dan saya pun sempat “meracuni” sahabat saya untuk juga membeli action figure tersebut…eh malahan dia menjadi ketagihan dan sampai membeli hingga jutaan rupiah..hahahahhahaaha… sori and kereenn broooo…

Sudah 1 bulan tanggal 29 Maret 2016 saya menetap di Malaysia bersama papa. Harus perpanjang permit visit passport nih.  Kalo gak, bisa di deportasi. Hal itu saya konsultasikan ke dokter dan ternyata dari pihak rumah sakit dapat membantu menguruskan di kantor imigrasi tetapi hanya untuk pasien. Akhirnya saya menyiapkan dokumen yang harus dilengkapi dan biayanya. Saya pergi ke kantor imigrasi bersama papa saya naik taxi dan di sana bertemu dengan perwakilan dari rumah sakit. Esoknya papa saya perpanjang permit visitnya dengan cara pergi bermalam ke Singapur bersama adik saya. Adik saya datang menjenguk bersama mama saya. Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar kalau nenek saya yang berada di belitung sedang sakit kritis karena usia 90-nya. Mama saya sedih dan bermaksud untuk pergi ke belitung. Lusa harinya mama saya pulang bersama adik saya ke Jakarta dan besoknya mama pergi ke belitung. Kabar bahwa nenek saya meninggal pun terdengar. See you in heaven grandma…



            

             Bersambung >>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar