Rabu, 12 Oktober 2016

CHAPTER 3: I need YOU, where are YOU??

“Kamu itu mengidap KANKER NASOFARING!!” tegas dokter.

Saya terkejut bukan main dan saya tidak bisa berkata apa-apa. Dokter menyuruh saya untuk melakukan biopsy lagi, kali ini di sumbernya yaitu di belakang hidung. Dan harus dilakukan saat itu juga. Biopsi pun di lakukan di ruangan operasi/tindakan sebelah rungan konsultasinya. Saat memasukan obat bius melalui hidung, terasa perih di sekitar hidung sampai leher. Dan saat dokter ingin memasukkan alat untuk mengambil sebagian organ dari sumbernya itu…buru-buru saya menutup mata dan saya hanya merasakan seperti ada yang ditarik / dicabut dari dalam hidung saya...hanya sedikit. Lalu saya disuruh untuk menunggu hasilnya selama 1 minggu (berbeda dengan di Indonesia harus menunggu sekitar 1 bulan). Setelah itu dia merujuk saya untuk pengobatan selanjutnya ke dokter onkologi yang masih satu lantai. Sebelum pergi, dokter memberikan saya vitamin B12 dan saran untuk melakukan melatih tangan saya dengan mengangkat beban (dumbell) 1 atau 2 kg. Karena hari sudah sore dan jam kerja dokter sudah habis, maka saya dan papa saya kembali ke hotel dan menghabiskan sisa hari dengan berjalan-jalan ke mall sekitar rumah sakit.

Keesokan hari setelah melakukan registrasi kembali, saya menuju ke dokter onkologi dan melakukan konsultasi. Dokter menyuruh saya untuk melakukan roentgen dada dan MRI ulang karena berkas roentgen yang saya bawa sudah lama (bulan Agustus 2015). Dia takut kalau kanker saya ini sudah menyebar ke tempat lain. Rontgen dada, cek darah dan MRI head and neck pun saya lakukan.

Hasil roentgen dan MRI saya ambil keesokan harinya dan membawanya ke dokter. Setelah dokter melihat hasilnya ternyata kanker saya tidak menyebar dan saya mengidap kanker nasofaring stage 3. Dia mengatakan kesempatan saya 50:50 (50 dari pengobatan dan 50 dari semangat hidup). Air mata pun tak tertahankan. Saya menangis setelah mendengar hal itu dan papa saya berusaha untuk menenangkan saya. Setelah saya berusaha kuat, dokter melanjutkan ke tahap pengobatan dengan memberikan jadwal rawatan atau terapi yang harus saya jalani dan biayanya. Terapi nya ada 2 yaitu radioterapi dan kemoterapi (infuse). Radioterapi harus dilakukan setiap hari sebanyak 35 kali atau kurang lebih 2 bulan sedangkan kemoterapi ada 2 jadwal yaitu seminggu sekali sebanyak 6-7 kali atau 3 minggu sekali sebanyak 6 kali. Bagi yang tidak kuat fisiknya, dianjurkan untuk mengambil yang 3 minggu sekali karena efek samping dari kemoterapi yang dapat membuat fisik menjadi lemah. Ditetapkanlah jadwal berlangsungnya terapi tersebut atas diri saya.

Sebagai informasi, sebelum menjalankan radioterapi saya diharuskan untuk membuat topeng agar ketika terapi dilakukan posisi kepala saya tidak bergeser atau bergerak. Dan untuk obat infuse kemoterapi yang digunakan tidak membuat kepala saya botak….fiuhhhh…. dan juga saya harus memeriksakan gigi saya karena setelah menjalankan terapi, selama 5 tahun ke depan saya tidak diperbolehkan mencabut gigi karena akan mengalami pendarahan.

Sebelum kembali ke hotel, saya mendaftarkan diri ke dokter gigi yang berada di lantai dasar dan mendapat jadwal besok. Kembalilah saya ke hotel dan memberitahukan kepada istri saya via bbm bahwa saya mengidap penyakit Kanker Nasofaring. Dan saya merasakan kesedihan istri saya setelah mendapat kabar itu. Kabar itu pun diberitahukan ke kakak. adik dan anggota keluarga yang lain. Mereka pun larut dalam tangis (seperti lomba menangis) bersama dengan salah seorang pendeta gereja saya yang saat itu berkunjung ke rumah.

Marah dan bersungut-sungut kutujukan kepada Tuhan atas apa yang telah terjadi.
WHY LORD?? WHY…WHY ME?? TELL ME MY SINS!!! TALK TO ME LORD… TALK TO ME… PLEASE…

NO SOUND…NOTHING.. DO YOU EXIST LORD???
I NEED YOU, WHERE ARE YOU?

Walaupun saya terlahir dari keluarga Kristen dan terlibat dalam kegiatan gereja atau pelayanan tidak serta merta membuat iman saya kuat saat menghadapi masalah berat.

Malam pun telah larut tetapi mata saya tak kunjung tertutup. Pikiran buruk pun menghantui. Pasrah dan putus asa menemani. Hanya ditopang oleh doa dan motivasi dari keluarga dan sahabat, saya mau menjalani terapi tersebut.

Tiba saatnya saya diperiksa dokter gigi. Saya harus roentgen gigi dulu sebelum dilakukan tindakan. Dokter melihat ada beberapa gigi saya yang harus dicabut. Karena posisi gigi saya yang sulit dilakukan pencabutan, akhirnya dokter melakukan operasi terhadap mulut saya. Panik bukan main… kalau bukan suatu keharusan, saya akan lari keluar dari ruangan itu.

Dokter dan asistennya pun mempersiapkan segala sesuatunya, saya pun diberikan penutup mata (mungkin agar saya tidak takut melihat darah). Malahan dengan ditutupnya mata saya, saya semakin takut. Oh noooo…air mata pun mengalir… eike tatuuuuttttt dookk…. “Saya tidak mau pakai penutup matanya” ucap saya. Penutup mata pun di buka dan dilanjutkan proses operasinya… jantung berdegup kencang, tangan mengepal erat, jari kaki tegang dan badan kaku merupakan efek samping dari ketakutan…hihihihihi….

Operasipun selesai dan mulut saya di sumpal kain kasa untuk menahan darah yang keluar setelah operasi akibatnya saya tidak bisa bicara. Pipi kelihatan bengkak karena ada kain kasa…untuk sementara waktu saya kelihatan chubby….hehehehehehe… Kain kasa pengganti pun diberikan dan dianjurkan untuk kumur-kumur dengan air es agar darahnya berhenti keluar. Selama 2 hari akhirnya darah berhenti keluar dari mulut saya. Jadwal selanjutnya adalah tooth filling (tambal gigi).

Selama 1 minggu di Malaysia akhirnya tanggal 23 Februari 2016 back to Jakarta.
Setibanya di rumah, acara nangis pun berlanjut…istri dan mama saya menangis…saya pun tertular nangis. Lalu mereka memotivasi saya, mendoakan dan memberi semangat agar saya dapat menjalani proses terapi dan menjadi sembuh.

Tanggal 29 Feb 2016 saya balik ke Malaysia dan saya telah mempersiapkan perlengkapan kebutuhan untuk 2 bulan menetap di sana bersama papa.




Bersambung >>>


Tidak ada komentar:

Posting Komentar