Tapi kalo ototnya nongol di leher
masih keren gak ya? (sambil bayangin deh…hahahaha)
Itu yang saya alami pada bulan
Agustus tahun 2015 kemarin. Aneh juga kok di leher bisa muncul otot? Mau tau
bagaimana caranya? Hahaahahaah…jangan sampe deh, amit-amit.
Kelenjar getah bening?? Langsung
teringat salah satu artis dan comedian terkenal yang baru saja meninggal
katanya akibat kelenjar getah bening.
Muncullah kegelisahan dalam
jiwaku… (dag dig dug serr)
Apa yang harus kulakukan?
(pilihan berganda)
a. berdoa b. berobat c.
keduanya benar
Setelah berdoa, pada tanggal 18
Agustus 2015 saya ditemani oleh sang permaisuri memeriksakan diri ke klinik
dekat rumah di bilangan Jakarta
timur. Setelah diperiksa, dokter mengatakan kemungkinan akibat penyakit TBC
dan saya disuruh untuk rontgen thorax dan cek darah. Hasil dari rontgen
menyatakan paru-paru saya dalam keadaan baik dan hasil cek darah saya tidak
menunjukkan masalah yang berarti.
Kegelisahan masih menyelimuti
diriku…AADE (Ada Apa Dengan Ello).
Setelah menceritakan soal “otot” yang
ada di leher kanan kepada orangtua, mereka menyuruh saya untuk memeriksakan
diri ke salah satu dokter bedah di rumah sakit daerah Jakarta
utara dengan referensi dari teman mereka. Dan berkunjunglah saya ke sana
dan melakukan konsultasi pada tanggal 25 Agustus 2015. Dokter tersebut menyuruh
saya untuk dilakukan USG Thyroid, setelah
itu menetapkan tanggal untuk dilakukan biopsy (diambil semua) terhadap “otot”
di leher saya itu.
OPERASIIIII???!!!! OH ON eh.. OH
NO!!!
Setau saya, biopsy itu ada 2
macam, diambil sedikit dan diambil semua.
Kegelisahan jilid 2
menghampiriku…
Bersyukur punya saudara sepupu
dokter. saya menceritakan hal ini kepadanya dan dia merekomendasikan saya untuk
melakukan CT-Scan di rumah sakit daerah Jakarta
pusat.
28 Agustus 2015 dengan
mengendarai kuda besi bak seorang ksatria, sampailah saya di benteng rumah
sakit tersebut lalu mengeluarkan uang untuk parkir (dibayar dimuka heheheheh).
Setelah antri tibalah giliran saya untuk CT-Scan (pertama kali dalam hidup) dan
hasilnya dapat diambil beberapa hari kemudian.
Hasil Ct-Scan keluar dan saya
memperlihatkan kepada saudara saya dan dia merujuk saya untuk ke dokter THT
atau Onkologi di rumah sakit yang berlainan di daerah Jakarta
pusat. Atas nasihatnya, berangkatlah saya pada tanggal 01 September 2015
mengunjungi dokter onkologi tersebut setelah sebelumnya melakukan perjanjian
dan saya membawa serta hasil CT-Scan. Dokter melihat hasil CT-Scan dan mengatakan
saya harus di biopsi. Karena saya takut dioperasi maka saya minta obat dulu,
siapa tau bisa sembuh. (ngarepp).
Ketika obat dari dokter habis,
saya minum obat herbal yang ada di iklan majalah. Dan si “otot” pun tak kunjung
melarikan diri dari leherku.
Teman gereja melihat kejadian ini
dan merekomendasikan saya ke salah satu dokter di rumah sakit daerah Jakarta
utara (dokter bedah). Berkunjunglah saya ke sana
tanggal 18 September 2015 dan melakukan konsultasi. Dan dokterpun mengatakan
saya harus di biopsy (diambil semua). Pernyataan yang sama dari dokter
sebelumnya.
Kegelisahaan jilid 3 menghampiri
+ kepala pusing
Takut akan membesarnya si “otot”
dan menimbulkan efek negative ke tubuh, disepakatilah waktu biopsinya yaitu
tanggal 21 September 2015 .
Pagi hari ditemani orangtua
datang ke rumah sakit dan tak kusangka, tak kuduga…hadirlah Pendeta dan teman
gereja untuk mendoakan dan memberi semangat. Oh betapa indahnya dan betapa
eloknya, bila saudara seiman hidup dalam persatuan.
Setelah itu saya menuju ruangan
yang paling ditakuti yaitu ruangan kasir…untuk melakukan pembayaran di muka…
Masuklah saya di ruangan tunggu
operasi ditemani seorang pasien wanita (mungkin kurang lebih umurnya 40an) yang
juga akan dioperasi.
Tibalah giliran saya untuk masuk
ke ruang operasi dan disambut oleh 2 dokter: yang satu dokter bius dan satu
lagi dokter bedah.
“Pak, saya suntik sedikit
ya..tenang dan tutup mata aja” kata dokter biusnya. Dan tak lama setelah
menusukkan jarum suntik ke tangan saya…wusshhhhh….. hilanglah saya….
“Pak…bangun Pak”. Tiba-tiba
terdengar suara wanita membangunkan ku. Dengan penglihatan yang samar-samar dan
kepala yang pusing, saya berusaha untuk bangun tapi ternyata oh ternyata saya
mengeluarkan cairan dari mulut saya alias muntah. Saya tidak sanggup untuk
bangun dan berusaha untuk “hilang” lagi.
Dalam keadaan setengah sadar saya
dimasukkan ke ruang rawat inap.
Setelah beberapa hari saya “cek
in” di rumah sakit akhirnya saya merasa tubuh saya sudah segar walaupun dalam
keadaan leher masih di perban dan tidak bisa nengok kanan dan kiri. Saya
mengajukan ke dokter untuk dapat pulang dan berobat jalan. Dokter pun
mengabulkan dan memberikan saya salep untuk diolesi pada bekas jahitan operasi.
Hasil biopsi/PA ditunggu selama 1 bulan. Satu minggu setelah itu saya
datang kembali untuk ganti perban dan diberikan vitamin syaraf.
Rasa penasaran menghampiri saya
untuk mencari pendapat yang lain dari dokter yang berbeda. Lalu saya melakukan
perjanjian dengan dokter THT di salah satu
rumah sakit daerah Jakarta pusat.
Tanggal 06 Oktober 2015 hadirlah
saya disana dan menceritakan kejadiannya. Setelah melihat hasil CT-Scan yang
saya bawa, dokter tersebut melakukan endoskopi dan hasilnya yaitu ada daging
lebih di belakang hidung tetapi dia tidak mau mendahului hasil PA dan menyuruh
saya untuk menunggu hasil PA dan diperlihatkan kepadanya.
Setelah 1 bulan berlalu dan
perban di leher sudah di buka, pada tanggal 03 Oktober 2015 kembalilah saya
bersama sang permaisuri ke dokter yang melakukan biopsy untuk mengetahui hasil PA.
Dan hasilnya adalah……………
Bersambung
>>>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar