Sabtu, 17 September 2016

CHAPTER 1 : Otot di leher

Cowok mana yang gak mau punya tubuh keren, atletis, six pack, berotot? 
Tapi kalo ototnya nongol di leher masih keren gak ya? (sambil bayangin deh…hahahaha)
Itu yang saya alami pada bulan Agustus tahun 2015 kemarin. Aneh juga kok di leher bisa muncul otot? Mau tau bagaimana caranya? Hahaahahaah…jangan sampe deh, amit-amit.

Kelenjar getah bening?? Langsung teringat salah satu artis dan comedian terkenal yang baru saja meninggal katanya akibat kelenjar getah bening.

Muncullah kegelisahan dalam jiwaku… (dag dig dug serr)
Apa yang harus kulakukan? (pilihan berganda)

a. berdoa          b. berobat        c. keduanya benar

Setelah berdoa, pada tanggal 18 Agustus 2015 saya ditemani oleh sang permaisuri memeriksakan diri ke klinik dekat rumah di bilangan Jakarta timur. Setelah diperiksa, dokter mengatakan kemungkinan akibat penyakit TBC dan saya disuruh untuk rontgen thorax dan cek darah. Hasil dari rontgen menyatakan paru-paru saya dalam keadaan baik dan hasil cek darah saya tidak menunjukkan masalah yang berarti.

Kegelisahan masih menyelimuti diriku…AADE (Ada Apa Dengan Ello).

Setelah menceritakan soal “otot” yang ada di leher kanan kepada orangtua, mereka menyuruh saya untuk memeriksakan diri ke salah satu dokter bedah di rumah sakit daerah Jakarta utara dengan referensi dari teman mereka. Dan berkunjunglah saya ke sana dan melakukan konsultasi pada tanggal 25 Agustus 2015. Dokter tersebut menyuruh saya untuk dilakukan USG Thyroid, setelah itu menetapkan tanggal untuk dilakukan biopsy (diambil semua) terhadap “otot” di leher saya itu. 

OPERASIIIII???!!!! OH ON eh.. OH NO!!!
Setau saya, biopsy itu ada 2 macam, diambil sedikit dan diambil semua.

Kegelisahan jilid 2 menghampiriku…

Bersyukur punya saudara sepupu dokter. saya menceritakan hal ini kepadanya dan dia merekomendasikan saya untuk melakukan CT-Scan di rumah sakit daerah Jakarta pusat.
28 Agustus 2015 dengan mengendarai kuda besi bak seorang ksatria, sampailah saya di benteng rumah sakit tersebut lalu mengeluarkan uang untuk parkir (dibayar dimuka heheheheh). Setelah antri tibalah giliran saya untuk CT-Scan (pertama kali dalam hidup) dan hasilnya dapat diambil beberapa hari kemudian.

Hasil Ct-Scan keluar dan saya memperlihatkan kepada saudara saya dan dia merujuk saya untuk ke dokter THT atau Onkologi di rumah sakit yang berlainan di daerah Jakarta pusat. Atas nasihatnya, berangkatlah saya pada tanggal 01 September 2015 mengunjungi dokter onkologi tersebut setelah sebelumnya melakukan perjanjian dan saya membawa serta hasil CT-Scan. Dokter melihat hasil CT-Scan dan mengatakan saya harus di biopsi. Karena saya takut dioperasi maka saya minta obat dulu, siapa tau bisa sembuh. (ngarepp).
Ketika obat dari dokter habis, saya minum obat herbal yang ada di iklan majalah. Dan si “otot” pun tak kunjung melarikan diri dari leherku.

Teman gereja melihat kejadian ini dan merekomendasikan saya ke salah satu dokter di rumah sakit daerah Jakarta utara (dokter bedah). Berkunjunglah saya ke sana tanggal 18 September 2015 dan melakukan konsultasi. Dan dokterpun mengatakan saya harus di biopsy (diambil semua). Pernyataan yang sama dari dokter sebelumnya.

Kegelisahaan jilid 3 menghampiri + kepala pusing

Takut akan membesarnya si “otot” dan menimbulkan efek negative ke tubuh, disepakatilah waktu biopsinya yaitu tanggal 21 September 2015.

Pagi hari ditemani orangtua datang ke rumah sakit dan tak kusangka, tak kuduga…hadirlah Pendeta dan teman gereja untuk mendoakan dan memberi semangat. Oh betapa indahnya dan betapa eloknya, bila saudara seiman hidup dalam persatuan.
Setelah itu saya menuju ruangan yang paling ditakuti yaitu ruangan kasir…untuk melakukan pembayaran di muka…
Masuklah saya di ruangan tunggu operasi ditemani seorang pasien wanita (mungkin kurang lebih umurnya 40an) yang juga akan dioperasi.
Tibalah giliran saya untuk masuk ke ruang operasi dan disambut oleh 2 dokter: yang satu dokter bius dan satu lagi dokter bedah.
“Pak, saya suntik sedikit ya..tenang dan tutup mata aja” kata dokter biusnya. Dan tak lama setelah menusukkan jarum suntik ke tangan saya…wusshhhhh….. hilanglah saya….

“Pak…bangun Pak”. Tiba-tiba terdengar suara wanita membangunkan ku. Dengan penglihatan yang samar-samar dan kepala yang pusing, saya berusaha untuk bangun tapi ternyata oh ternyata saya mengeluarkan cairan dari mulut saya alias muntah. Saya tidak sanggup untuk bangun dan berusaha untuk “hilang” lagi.
Dalam keadaan setengah sadar saya dimasukkan ke ruang rawat inap.
Setelah beberapa hari saya “cek in” di rumah sakit akhirnya saya merasa tubuh saya sudah segar walaupun dalam keadaan leher masih di perban dan tidak bisa nengok kanan dan kiri. Saya mengajukan ke dokter untuk dapat pulang dan berobat jalan. Dokter pun mengabulkan dan memberikan saya salep untuk diolesi pada bekas jahitan operasi. Hasil biopsi/PA ditunggu selama 1 bulan. Satu minggu setelah itu saya datang kembali untuk ganti perban dan diberikan vitamin syaraf.

Rasa penasaran menghampiri saya untuk mencari pendapat yang lain dari dokter yang berbeda. Lalu saya melakukan perjanjian dengan dokter THT di salah satu rumah sakit daerah Jakarta pusat.
Tanggal 06 Oktober 2015 hadirlah saya disana dan menceritakan kejadiannya. Setelah melihat hasil CT-Scan yang saya bawa, dokter tersebut melakukan endoskopi dan hasilnya yaitu ada daging lebih di belakang hidung tetapi dia tidak mau mendahului hasil PA dan menyuruh saya untuk menunggu hasil PA dan diperlihatkan kepadanya.

Setelah 1 bulan berlalu dan perban di leher sudah di buka, pada tanggal 03 Oktober 2015 kembalilah saya bersama sang permaisuri ke dokter yang melakukan biopsy untuk mengetahui hasil PA. Dan hasilnya adalah…………… 

                                                                                                            
 Bersambung >>>





Tidak ada komentar:

Posting Komentar